Pada hari minggu , sekitar jam 10.00 saya berangkat ke sekolah hanya
untuk tujuan mengumpulkan laporan kegiatan LDK, sesampai di sekolah ,waka
kesiswaan dan salah satu guru memberikan informasi tentang sesuatu yang tidak
pernah terlintas dalam benakku , ternyata waka kesiswaan menceritakan bahwa ada
seorang teman guru dengan nada yang agak keras bahwa saya telah mendelegasikan
pengurus osis untuk mengambil sesuatu yang saya telah amanahkan kepada teman
guru, tetapi sesungguhnya bukan itu maksudnya,hanya saya menyuruh untuk terus
berkoordinasi, ternyata maksud dan tujuan itu disalah artikan, dan ironisnya
tanpa mengklarifikasi terhadap permasalahan itu.
Ternyata miss komunikasi bisa terjadi dimana saja, tidak melihat apakah
di institusi pendidikan maupun di luar institusi pendidikan. Di lingkungan
pendidikan yang di dalamnya orang-orang yang berpendidikan tidak jauh bedanya
dengan di luar pendidikan, ketika ada permasalaahan, kita selalu reaktif dan
respon walaupun itu belum jelas titik permasalahannya.
Proses pendidikan tidak bisa membuat semua orang menjadi dewasa apalagi
bijaksana, karena titik klimak dari orang yang berilmu pengetahuan adalah
kebijaksanaan. Dan ini sangat kontradiktif sekali dengan realitas kehidupan,
sesorang yang telah mendapatkan pendidikan sampai keperguruan tinggi dan
mengantongi banyak title bukan berarti dia menyikapi permasalahan dengan
bijaksana, bahkan sebaliknya.
Proses pembelajaran yang telah kita dapatkan tidak serta merta membuat
kita baik secara fisik and psikis berubah, perubahan yang banyak dirasakan
hanyalah perubahan dari segi kognitif tapi sikap dan mental tidak berubah
secara instan, dan inilah yang menjadi PR besar dunia pendidikan. Sistem
pendidikan kita banyak terkonsentrasi pada aspek kognitif semataa , dan aspek
afektif n psikomotorik tidak terlalu mendapat perhatian. Sehingga muncullah
manusia-manusia yang hanya punya otak tapi tidak punya watak.
Di samping itu factor ketauladanan merupakan factor yang sangat penting
yang memang pada era millennium 21 ini dirasakan sangat kurang, baik dari
tingkat pemerintah,pembuat kebijakan,pelaksanaa kebijakaan dan bahkan
ironisnya dari yang berprofesi sebagai pengajar ataupun pendidik.Pendidik
sebagai orang yang di gugu dan di tiru sejatinya sikap dan tingkah lakunya
terkontrol dan harus ada link and match antara teori dan praktik. Kan apa yang
dikerjakan oleh guru pasti akan diikuti oleh siswa.
Sikap dan prilaku seperti itu merupakan akumulasi dari kegagalan sistem
pendidikan yang terlalu berorientasi pada kecerdasan intelektual semata padahal
masih banyak bentuk-bentuk kecerdasan lainnya. Kalau bentuk bentuk kecerdasan
itu di berikan porsi yang sama dalam pembelajaran insyaallah akan lahir
manusia yang punya otak serta punya watak.
Di dalam kehidupan kita, kita tidak akan pernah terlepas dari interaksi
social, karena manusia adalah mahluk social, yang selalu bergantung kepada
orang lain, ketergantungan ini membutuhkan sebuah startegi agar selalu
terjalin dan bertahan lama, karena Rasulpun pun telah memperaktikkan dan
menyebarkan virus- virus kasih sayang kepada sesamanya dan inilah menjadi daya
tarik Rasulullah dalam menyebarkan ajarannya.Beliau tidak pernah reaktif terhadap
permasalahan yang belum jelas titik permasalahannya. Kenapa tidak kita sebagai
manusia yang selalu dibungkus oleh kesalahan dan kekurangan yang selalu
memperturutkan nafsu kita, mengikuti langkah –langkah beliau.
Rasulullah diutus Allah untuk mendobrak kejahiliahan, artinya kalau
masih sikap dan prilaku kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama
mengundang sebuah konflik atau perdebatan yang akan membawa perpecahan, maka
kita masih dalam kondisi jahiliyah. Untuk kita keluar dari kondisi tersebut
mari kita amalkan obat yang paling mujarab yang tawarkan Allah dan Rasulnya
kepada kita yaitu “Al-Qur’an dan As-sunnah. Untuk mengkosumsi obat ini hanyalah
melalui pendidikan.
( Minggu, 15 Desember 2013)
Kau memang hebat,,,gak cuman cantik, tp kau cerdas dan juga sangat sempurna,,,,teruskan berkarya,,,,OK
BalasHapus