Kamis, 12 Desember 2013

KEMISKINAN POTRET KEHIDUPAN


Pagi minggu tiba,cuaca begitu sejuk dan cerah karena tadi malam turun hujan,suasana itu saya nikmati bersama keluarga yang kebetulan hanya hari minggu kami bisa berkumpul bersama,dan biasanya kami belajar bernyanyi alias karaokean,untuk menghilangkan rasa penat yang selama enam hari beraktifitas. Di tengah keasyikan itu,tiba2 datang orang mengucapkan salam, aku beranjak menghampirinya,ternyata ada tamu,masih muda dan bahkan memakai peci,ironisnya tamu itu menyodorkan sebuah buku tulis yang isinya daftar sumbangan,aku langsung bertanya, sumbangan apa, sang tamu menjawab” sumbangan untuk masjid, saya bertanya lagi untuk masjid mana,dia menjawab “untuk masjid di Kediri jawa timur. Saya heran kenapa masjid yang berada di jawa dicarikan sumbangan sampai sejauh ini, kan disini juga masih banyak masjid-masjid yang sedang direnovasi dan belum tuntas dikerjakan, itu yang ada di dalam pikiranku
Aku bergegas ke dalam mengambilkan uang seikhlasku, dan tamu itupun pergi, tapi tidak berselang lama tamu itupun datang kembalai dan anehnya selalu mengunakan hari minggu untuk mencari sumbangan.kali ini saya berpikir untuk tidak memberikan karena itu mungkin akal-akalan dia ,mungkin dalam pandangannya dibanding bekerja lebih baik mengemis dengan dalih untuk mencari sumbangan masjid yang sedang direnovasi.Saya prihatin,dengan keadaan seperti ini
Ini adalah gambaran riil dari kehidupan, yang diakibatkan dari tidak meratanya perekonomian di negeri ini, segala usaha dilakukan demi untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan ,walaupun itu didapatkan dengan cara legal maupun illegal,persoalan halal dan haram menjadi persoalan belakang ,yang utama adalah bagaaimana mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginannya. Gaya hidup manusia yang senantiasa berorientasi kepada keduaniaan,hedonism dan bahkan konsumtif merupakan factor yang terkadang membuat manusia bertindak diluar kemampuannya.
Tetapi memang dunia ini diciptakan sang Pencipta hanya dengan dua hal yang saling bertentangan, atau beroposisi biner. Ada tua dan muda. Ada kanan dan kiri. Ada bahagia dan sengsara. Ada laki-laki dan ada perempuan. Tak terlupakan, ada kaya dan ada pula miskin, dan seterusnya. Itulah warna kehidupan ini. Tuhan ciptakan isi dunia ini dengan berpasang-pasangan.
Kemiskinan telah memarjinalkan mereka  baik secara sosial, ekonomi, maupun spiritual. Mereka tidak saja miskin secara material, tetapi juga hati. Oleh sebagian, mereka sering dianggap sebagai sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Padahal, seharusnya diberdayakan. Tetapi memang tidak mudah. Orang miskin memiliki nilai sendiri memahami diri mereka. Karena itu, sosiologi kemiskinan berpandangan bahwa orang miskin tidak akan pernah menjadi kaya dengan diberi bantuan. Mereka bisa terlepas dari kemiskinan dengan diberdayakan melalui pendidikan yang baik.
Karena itu, pendidikan merupakan salah satu strategi yang handal untuk mengentas kemiskinan. Tetapi orang miskin juga memiliki sifat unik. Sering terjadi orang miskin tidak mau disebut miskin. Mereka juga punya harga diri sebagaimana orang lain. Jika pendidikan dipandang sebagai langkah terbaik memutus mata rantai kemiskinan, persoalannya di lapangan tidak semudah itu. Banyak anak keluarga orang miskin tidak mau sekolah, walau sudah difasilitasi oleh pemerintah.
Kemiskinan bukan saja persoalan kita, tetapi  juga merupakan problematika kemanusiaan secara global. Hampir di semua negara, kecuali yang tergolong sebagai negara maju, kemiskinan menjadi salah satu isu sentral yang harus diselesaikan. Ada yang berhasil, tetapi ada pula yang gagal menyelesaikannya. Pertanyaannya adalah apa penyebab utama kemiskinan?  Secara teoretik ada  dua  penyebab kemiskinan, yaitu kemiskinan kultural dan kemiskinan  struktural. Kemiskinan kultural terjadi karena keterbatasan  sumber daya alam dan karena kemiskinan keturunan. Secara alamiah, orangtua miskin akan meninggalkan warisan  kemiskinan kepada anak cucunya, kecuali para anak cucu itu mau bekerja keras dan pantang menyerah. Tidak sedikit orang sukses berasal dari keluarga miskin. Tetapi semua orang sukses itu tidak ada yang tidak berawal dari kerja keras dan pantang menyerah. Tidak pernah terjadi keberhasilan datang dengan tiba-tiba. Pasti diraih dengan susah payah. Orang-orang sukses umumnya mereka yang pantang menyerah dan tidak ada terlintas kata putus asa.
Sedangkan kemiskinan struktural terjadi karena imbas dari pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi, tanpa mempertimbangkan pemerataan. Hasilnya ketimpangan kesejahteraan luar biasa. Mungkin  orang-orang miskin yang disebut di muka  bisa saja  korban dari kebijakan pembangunan yang  menggusur aset-aset mereka sehingga menjadi miskin. Kemiskinan model kedua ini justru sering terjadi di negara-negara yang sedang membangun, seperti Indonesia. Hingga saat ini setelah 68 tahun merdeka, orang miskin di negeri ini masih sangat banyak.  Menurut statistik versi pemerintah, dari  240 juta penduduk, orang miskinnya masih mencapai 29, 5 juta orang. Sedangkan menurut Bank Dunia (World Bank), jumlah orang miskin di Indonesia masih mencapai 85 juta orang labih. Yang digolongkan miskin adalah mereka yang pendapatannya tidak lebih dari $2 per hari.
Para peminta  yang datang kerumah tadi adalah sebagian dari jutaan orang miskin di negeri ini. Dengan begitu tingginya angka kemiskinan di negeri ini, apalagi versi Bank Dunia, cita-cita bangsa ini untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur belum tercapai. Adil terkait dengan penegakan hukum, sedangkan makmur terkait dengan kesejahteraan atau kecukupan  ekonomi. Jika memperhatikan penegakan hukum yang demikian lemah, dan angka kemiskikan yang masih begitu tinggi disusul dengan ketimpangan yang semakin melebar tampaknya  kedua-duanya masih memerlukan waktu yang panjang untuk bisa kita raih. Karena itu, jika masih kita temukan pengemis di berbagai tempat --- termasuk di pintu-pintu gerbang masjid--- kita memakluminya. Sebab, itulah potret kemiskinan yang sebenarnya, bukan lewat data statistik yang bisa dimanipulasi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar