Pagi minggu tiba,cuaca begitu sejuk
dan cerah karena tadi malam turun hujan,suasana itu saya nikmati bersama
keluarga yang kebetulan hanya hari minggu kami bisa berkumpul bersama,dan
biasanya kami belajar bernyanyi alias karaokean,untuk menghilangkan rasa penat
yang selama enam hari beraktifitas. Di tengah keasyikan itu,tiba2 datang orang
mengucapkan salam, aku beranjak menghampirinya,ternyata ada tamu,masih muda dan
bahkan memakai peci,ironisnya tamu itu menyodorkan sebuah buku tulis yang
isinya daftar sumbangan,aku langsung bertanya, sumbangan apa, sang tamu
menjawab” sumbangan untuk masjid, saya bertanya lagi untuk masjid mana,dia
menjawab “untuk masjid di Kediri jawa timur. Saya heran kenapa masjid yang
berada di jawa dicarikan sumbangan sampai sejauh ini, kan disini juga masih
banyak masjid-masjid yang sedang direnovasi dan belum tuntas dikerjakan, itu
yang ada di dalam pikiranku
Aku bergegas ke dalam mengambilkan
uang seikhlasku, dan tamu itupun pergi, tapi tidak berselang lama tamu itupun
datang kembalai dan anehnya selalu mengunakan hari minggu untuk mencari
sumbangan.kali ini saya berpikir untuk tidak memberikan karena itu mungkin
akal-akalan dia ,mungkin dalam pandangannya dibanding bekerja lebih baik
mengemis dengan dalih untuk mencari sumbangan masjid yang sedang
direnovasi.Saya prihatin,dengan keadaan seperti ini
Ini adalah gambaran riil dari
kehidupan, yang diakibatkan dari tidak meratanya perekonomian di negeri ini,
segala usaha dilakukan demi untuk mempertahankan dan melanjutkan kehidupan
,walaupun itu didapatkan dengan cara legal maupun illegal,persoalan halal dan
haram menjadi persoalan belakang ,yang utama adalah bagaaimana mendapatkan
sesuatu yang menjadi keinginannya. Gaya hidup manusia yang senantiasa
berorientasi kepada keduaniaan,hedonism dan bahkan konsumtif merupakan factor
yang terkadang membuat manusia bertindak diluar kemampuannya.
Tetapi memang dunia ini diciptakan
sang Pencipta hanya dengan dua hal yang saling bertentangan, atau beroposisi
biner. Ada tua dan muda. Ada kanan dan kiri. Ada bahagia dan sengsara. Ada
laki-laki dan ada perempuan. Tak terlupakan, ada kaya dan ada pula miskin, dan
seterusnya. Itulah warna kehidupan ini. Tuhan ciptakan isi dunia ini dengan
berpasang-pasangan.
Kemiskinan telah memarjinalkan
mereka baik secara sosial, ekonomi, maupun spiritual. Mereka tidak saja
miskin secara material, tetapi juga hati. Oleh sebagian, mereka sering dianggap
sebagai sampah masyarakat yang harus dibersihkan. Padahal, seharusnya
diberdayakan. Tetapi memang tidak mudah. Orang miskin memiliki nilai sendiri
memahami diri mereka. Karena itu, sosiologi kemiskinan berpandangan bahwa orang
miskin tidak akan pernah menjadi kaya dengan diberi bantuan. Mereka bisa
terlepas dari kemiskinan dengan diberdayakan melalui pendidikan yang baik.
Karena itu, pendidikan merupakan salah
satu strategi yang handal untuk mengentas kemiskinan. Tetapi orang miskin juga
memiliki sifat unik. Sering terjadi orang miskin tidak mau disebut miskin.
Mereka juga punya harga diri sebagaimana orang lain. Jika pendidikan dipandang
sebagai langkah terbaik memutus mata rantai kemiskinan, persoalannya di
lapangan tidak semudah itu. Banyak anak keluarga orang miskin tidak mau
sekolah, walau sudah difasilitasi oleh pemerintah.
Kemiskinan bukan saja persoalan kita,
tetapi juga merupakan problematika kemanusiaan secara global. Hampir di
semua negara, kecuali yang tergolong sebagai negara maju, kemiskinan menjadi
salah satu isu sentral yang harus diselesaikan. Ada yang berhasil, tetapi ada
pula yang gagal menyelesaikannya. Pertanyaannya adalah apa penyebab utama kemiskinan?
Secara teoretik ada dua penyebab kemiskinan, yaitu kemiskinan
kultural dan kemiskinan struktural. Kemiskinan kultural terjadi karena
keterbatasan sumber daya alam dan karena kemiskinan keturunan. Secara
alamiah, orangtua miskin akan meninggalkan warisan kemiskinan kepada anak
cucunya, kecuali para anak cucu itu mau bekerja keras dan pantang menyerah.
Tidak sedikit orang sukses berasal dari keluarga miskin. Tetapi semua orang
sukses itu tidak ada yang tidak berawal dari kerja keras dan pantang menyerah.
Tidak pernah terjadi keberhasilan datang dengan tiba-tiba. Pasti diraih dengan
susah payah. Orang-orang sukses umumnya mereka yang pantang menyerah dan tidak
ada terlintas kata putus asa.
Sedangkan kemiskinan struktural
terjadi karena imbas dari pembangunan yang menekankan pertumbuhan ekonomi,
tanpa mempertimbangkan pemerataan. Hasilnya ketimpangan kesejahteraan luar
biasa. Mungkin orang-orang miskin yang disebut di muka bisa saja
korban dari kebijakan pembangunan yang menggusur aset-aset mereka sehingga
menjadi miskin. Kemiskinan model kedua ini justru sering terjadi di
negara-negara yang sedang membangun, seperti Indonesia. Hingga saat ini setelah
68 tahun merdeka, orang miskin di negeri ini masih sangat banyak. Menurut
statistik versi pemerintah, dari 240 juta penduduk, orang miskinnya masih
mencapai 29, 5 juta orang. Sedangkan menurut Bank Dunia (World Bank), jumlah
orang miskin di Indonesia masih mencapai 85 juta orang labih. Yang digolongkan
miskin adalah mereka yang pendapatannya tidak lebih dari $2 per hari.
Para peminta yang datang kerumah
tadi adalah sebagian dari jutaan orang miskin di negeri ini. Dengan begitu
tingginya angka kemiskinan di negeri ini, apalagi versi Bank Dunia, cita-cita
bangsa ini untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur belum tercapai.
Adil terkait dengan penegakan hukum, sedangkan makmur terkait dengan
kesejahteraan atau kecukupan ekonomi. Jika memperhatikan penegakan hukum
yang demikian lemah, dan angka kemiskikan yang masih begitu tinggi disusul dengan
ketimpangan yang semakin melebar tampaknya kedua-duanya masih memerlukan
waktu yang panjang untuk bisa kita raih. Karena itu, jika masih kita temukan
pengemis di berbagai tempat --- termasuk di pintu-pintu gerbang masjid--- kita
memakluminya. Sebab, itulah potret kemiskinan yang sebenarnya, bukan lewat data
statistik yang bisa dimanipulasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar