Selasa, 06 Oktober 2015

Agama dan Moralitas



( Reaktualisasi Pendidikan Agama  di Era Globalisasi)
Sebelum memasuki kajian utama, perlu dibahas terlebih dahulu pendidikan secara umum dari sudut pandang filosofisnya untuk memperoleh pandangan dasar visi sosiokultural dibalik peristiwa pendidikan. Lazimnya pendidikan diartikan sebagai kegiatan praktis yang selalu berurusan dengan upaya pengembangan kepribadian manusia,sehingga mereka dapat mengaktualisasikan dirinya dalam wujudnya yang berkualitas. Hanya lewat pendidikan manusia memperoleh koleksi pengalaman serta perubahan-perubahan dalam kemampuan berfikir, bernalar, berdaya cipta, berbudi pekerti dan lain-lain., Oleh karenanya, pendidikan harus di letakkan dalam kerangka permasalahan yang jelas mengingat posisi yang strategis yang diembannya.
            Melalui posisi strategisnya, pendidikan sesungguhnya menyimpan kekuatan yang luar biasa untuk menggerakkan seluruh aspek kehidupan dan menjadi tumpuan masa depan suatu bangsa dalam menghadapi perubahan zaman. Tidak berlebihan jika para ahli mengatakan bahwa pendidikan adalah salah satu aktivitas manusia yang paling sarat dengan berbagai muatan. Bagaimana nasib suatu bangsa dan akan dibawa kemana mereka tergantung pada pendidikan. Pendidikan dengan demikian, dapat dipandang dari dua hal, sebagai fenomena individual dan sebagai fenomena social budaya.
            Sebagai fenomena individual, pendidikan dipandang sebagai proses pengembangan manusia sebagai realitas mikrokosmos yang di dalamnya terdapat potensi-potensi dasar yang dapat dikembangkan dan dididik sebagai homo educandum. Sedangkan sebagai fenomena social budaya, pendidikan dipandang sebagai aktivitas yang memberikan suasana kondusif sehingga mampu berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan demikian sampai kapanpun tugas pendidikan selalu berkaitan dengan masalah pengembangan kemampuan dan kepribadian manusia, namun demikian, proses pengembangan kepribadian manusia tersebut perlu seleksi sebaik-baiknya sebelum diputuskan untuk disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Oleh karenaya, pendidikan dikatakan sebagai proses pembudayaan yang selektif.
            Dalam struktur pendidikan di Indonesia, pendidikan agama (Islam) mendapat tempat terhormat. Mata pelajaran agama bersifat wajib dan menjadi bagian integral dari kurikulum lembaga persekolahan disemua jenjang pendidikan, mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Hal itu suatu cerminan kentalnya sikap religiusitas masyarakat di bumi nusantara ini dan seharusnya dimaknai secara positif dengan menyuguhkan praktik pendidikan agama sebaik mungkin, baik dalam segi kualitas maupun dalam relevansinya. Untuk itu pendidikan agama  di lembaga persekolahan rasanya perlu diposisikan sebagai program andalan dan ruh bagi pembentukan moralitas warga Negara yang berbasiskan pemahaman nilai-nilai dasar keagamaan, dengan kata lain agama perlu diposisikan sebagai “Rasul Pembangun bangsa” yang misi utamanya pembangunan watak dan pembinaan akhlak .
            Dalam konteks ini , agama tentu saja lebih dimaknai sebagai sumber nilai dan pegangan hidup. Ukuran keberhasilannya terletak pada indeks perbaikan moral yang tentu saja harus terpancar secara kaffah dalam segenap segi kehidupan sehingga tidak ada celah bagi munculnya Darwinisme social liar. Dengan begitu, pendidikan agama tidak hanya tampil dan berperan sebagai pemberi pegangan hidup di level masing-mesing individu, tetapi juga sebagai pemberi kesejukan dan keselamatan bagi kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara secara keseluruhan.Bila misi tersebut bisa dipenuhi niscaya pendidikan agama akan tercatat dan dikenang sebagai pengokoh fundamen cultural masyarakat Indonesia baru yang berwajah religious dam demokratis.
            Untuk mencapai misi pendidikan agama yang sedemikian itu tidaklah semudah membalik telapak tangan, Ia jauh lebih sulit dari tugas pewarisan pengetahuan dan pelatihan keterampilan, karena setiap upaya pendidikan moral atau pendidikan nilai senantiasa berurusan dengan usaha pembentukan kesadaran dan prilaku moral yang di dalamnya melibatkan proses pembentukan kepercayaan, sikap nilai, standar moral dan komitmen moral. Proses tersebut tidak cukup dengan hanya mengajarkan materi pengetahuan yang condong content centred ketimbang student centred  sebagaimana yang umum di lakukan oleh guru.
            Uraian di atas setidaknya telah menjadi bahan penjelas betapa peran pendidikan sebagai wahana penanaman nilai-nilai moral di samping fungsi-fungsi lain yang diembannya. Melalui pendidikan diharapkan nilai-nilai moral yang sangat penting bagi kehidupan manusia baik individu maupun social, sebagai pribadi sekaligus sebagai anggota masyarakat dan bangsa dapat ditanamkan sehingga penyelenggaraan Negara bisa tertib dan aman, karena ada sinyalmen yang mengatakan bahwa krisis bangsa saat ini diakibatkan oleh krisis moral. Sebagaimana yang dilontarkan oleh Ignas Kleden dalam tulisannya yang berjudul Moral, agama dan Negara.
            Menurut Kleden, agama-agama secara umum lebih mengajarkan moralitas privat kepada pemeluknya ketimbang mengajarkan moralitas publik.misalnya, agama tidak secara langsung mengajarkan bagaimana berlalu lintas yang baik, bagaimana menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, bagaimana menjaga persatuan dan kesatuan, bagaimana sikap kita ngantri membayar telpon atau listrik dsb, semua itu menyangkut moralitas public yang sangat penting bagi kehidupan dan penyelenggaraan kenegaraan .Kenyataan  nya di masyarakat menunjukkan bahwa banyak anggota kelompok agama seringkali melanggar moralitas public, contoh yang paling gamblang adalah persoalan KKN yang merajalela di negeri ini, tidak sedikit dilakukan oleh orang-orang yang berbasis kehidupan agama yang baik.
            Kalau kita sepakat dengan logika sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa pendidikan agama yang baik merupakan wahana bagi pembangunan yang baik dan kehidupan yang baik tercermin dalam prilaku moral masyarakatnya. Maka dengan adanya “krisis moral” yang telah melanda bangsa kita kiranya absah untuk dipertanyakan ada apa dengan pendidikan agama kita ? atau setidaknya dapat ditanyakan apa yang mesti dilakukan dengan pendidikan agama kita sehingga dapat berkiprah pada era globalisasi. Dalam konteks ini, bukan berarti kita hendak menghakimi keberadaan pendidikan agama. Kiranya dapat menyederhanakan permasalahan jika kita hanya mengklaim bahwa kegagalan pendidikan agama merupakan sebab dari terjadinya “kiris moral”. Pertanyaan tersebut tidak lain merupakan salah satu bentuk refleksi atas fenomena kekinian bangsa dan korelasinya dengan pendidikan agama yang notabene merupakan wahana strategis bagi penanaman nilai-nilai moralitas.
Agar penanaman nilai nilai moralitas bisa efektif, maka penerapan model pembelajaran yang interaktif merupakan salah satu tehnik untuk mereformasi pendidikan dalam rangka menyiapkan diri agar mampu mengatasi tantangan arus globalisasi. Dan sekolah seyogyanya dijadikan sebagai sebuah TAMAN, yang dimana peserta didik merasa senang dan betah belajar di dalamnya, datang dengan senang hati dan pergi dengan berat hati,bukan sebaliknya, peserta didik datang dengan berat hati dan pulang dengan senang hati  . Dan inilah fenomena yang sesungguhnya dan menjadi fotret lembaga pendidikan kita.
.

Penulis : Direktur Ma’shum Institute (Maesarah, S.Ag, M.Pd.I)

Selasa, 31 Desember 2013

TAHUN BARU



Tahun baru, Semangat baru, atau baru semangat !
Tahun baru adalah momentum bagi sebuah fitrah perubahan, sesungguhnya tahun baru tidak mengandung keistimewaan apapun karena perubahan itu sendiri adalah fitrah (sebuah keniscayaan) yang memang semestinya terjadi kepada semesta alam, sama dengan perubahan perkawinan spermatozoa dengan sel telur yang kemudian bertumbuh menjadi zigod lalu menjadi embrio hingga menjadi kehidupan kita seperti sekarang ini. Perpindahan bumi mengitari matahari yang memproduksi pagi, siang sore dan malam adalah perubahan yang juga mesti harus terjadi. Pernahkah kita berfikir untuk memperingati perubahan pagi menuju siang dan dari siang menuju malam, kalau pernah kita peringati, bentuk peringatan apa yang kita lakukan untuk perubahan itu, lalu kemudian kita begitu sangat eporianya memperingati kalaziman perubahan tahun.
Apakah kandungan dari perubahan tahun yang kita lakukan ? dengan meniup terompet, menyalakan kembang api hingga membunyikan petasan sampai memekik telinga terutama pada tepat pukul 00.00 yang mungkin pada saat yang sama ada yang memilih memperingatinya dengan cara yang tidak popular misalnya melakukan muhasabah, melakukan hubungan-hubungan dengan sang pemilik perubahan itu sendiri yaitu Tuhan Yang Maha Abadi, atau bermunajad di keheningan malam sembari mengingat prosesi kehidupan di tahun sebelumnya.
Tentu cara memperingati perubahan tahun membawa latar masing-masing yang bermuara kepada optimisme kehidupan di masa depan.Dan adalah fitrah kemanusiaan kita yang selalu berupaya mencari memontum yang tepat untuk melakukan sesuatu termasuk momentum perubahan, tentu yang kita maksud adalah perubahan kearah yang lebih baik.Sesungguhnya umat Islam misalnya mempunyai banyak momentum setiap saat untuk melakukan kebaikan-kebaikan misalnya antara Isya dan Subuh terdapat momentum muhasabah dan penemuan sejatinya penghambaan bernama Qiyamul lail atau tahajjud, beberapa saat kemudian antara subuh dan zohor terdapat momentum bagi terbukanya pintu kesejahteraan bagi perbaikan kehidupan bernama sholat Dhuha.Diantara beberapa sholat terdapat suplementasi bagi upaya kesyukuran baik Qobliyah maupun Bakdiyah, Umat Islam mempunyai upacara mingguan, yaitu momentum membangun kebersamaan (Jamaah) dengan menegakkan sholat jumat kemudian adanya momentum pengukuhan bagi terciptanya insan yang mempunyai upaya control produktif bernama Siyamu Romadhon. Yang diakhiri dengan momentum kembali kepada hakekat kesucian dalam bentuk idul fitri yang ditutup dengan adanya kerelaan hati untuk berkorban demi terciptanya sinergi kehidupan antara sesama penghuni kehidupan (Hablum minannas) dan antara penghuni kehidupan  dengan pemilik kehidupan (Hablum minallah).
Maka pertanyaannya adalah pernahkah kita berpikir untuk memperingati kejadian kejadian perubahan tersebut se-eporia, se-gembira,se-gegap gempita kita memperingati tahun baru ?, sejatinya perubahan waktu harus mampu melahirkan alur kehidupan yang lebih baik dengan cara pandang yang lebih positif dan biasanya yang efektif adalah membangun semangat kejujuran untuk menjadikan masa lalu menjadi energi bagi masa depan yang lebih baik. Ataukah harus menunggu perubahan tahun baru demi tahun baru kita baru semangat ?.........
(Malam Tahun baru ,pukul 02:00)


Kamis, 26 Desember 2013

ATMOSFIR HAJI



Hari kamis tanggal 26 Desember, matahari tersenyum cerah menyinari bumi,kami sekeluarga memanfaatkan hari itu  untuk refreshing kebetulan itu  adalah momen liburan. Empat jam kami bermain-main bersama anak-anak,setelah itu kami langsung pulang, setiba dirumah, ada salah seorang yang menghampiriku bertanya tentang alamat sambil memegang sebuah amplop. Mata saya melihat kearah sebuah amplop tersebut dengan di berikan label Travel Haji dan Umroh. Jantungku berdetak keras sambil bertanya Tanya, apakah orang ini mencari alamat saya,apakah kun fayakun Allah berlaku pada saya, ketika hati saya berkata seperti itu, orang itu langsung menanyakan alamat yang dia tuju, ternyata tetangga sebelahku yang dituju, sangat bersyukur rasanya diriku, karena baru lama ini suami dari tetanggaku di panggil oleh sang pencipta, ternyata Allah memberikan cobaan kepada hambanya dengan diiringi oleh rizki dan rahmat-Nya.
Ketika aku ambil amplop yang dititip itu, sang tetangga yang lain mempertanyakan tentang isi dari amplop itu, saya menceritakan apa adanya, ternyata itu menjadi sebuah tema pembicaraan kami sampai menjelang datangnya azan magrib. Atmosfir haji bisa menarik minat dari ribuan bahkan triliunan umat manusia di dunia, Subhanallah
Di dalam surat al-Imran Allah berfirman yang artinya “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barang siapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Ali ‘Imraan [3];
Main point dari ayat tersebut adalah haji merupakan kewajiban manusia terhadap Allah bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.Kata kata sanggup saya garis bawahi sebagai kemampuan atau kesanggupan baik  secaraa fisik maupun psikis. Fisik maksudnya sanggup dan mampu secara materi, sedangkan psikis artinya mampu secara mental, tdk ada paksaan sedikitpun hanya semata-mata karena Allahutaala.
Atmosfir haji bisa menarik minat dari ribuan umat manusia, dan statistic keberangkatan haji menunjukkan dari tahun ke tahun meningkat sangat signifikan, peningkatan tersebut membuat pemerintaha kerajaan Saudi Arabia memperkecil kuota haji karena keterbatasan tempat maupun sarana fisik untuk menampung jama’ah calon haji.
Haji memang perintah dan kewajiban bagi umat islam, tetapi Allah tidak pernah memerintahkan sesuatu selama manusia itu tidak sanggup untuk mengerjakannya, dan ini merupakan salah satu firmannya. Tapi terkadang manusia tidak memahami maksud Allah tersebut, banyak faktor orang manunaikan ibadah haji,ada factor karena memang niat dan mampu, dan ada juga karena faktor prestise (harga diri). Melihat gejala social masyarakat kita lebih mengutamakan factor prestise yang walaupun secara materi dan mental belum mampu. Sehinnga asset ataupun investasi mereka jual untuk membayar ongkos haji, bahkan pendidikan anak-anak mereka terabaikan, ada yang menjadi TKW,TKI di negeri orang, diakibatkan gaya hidup dan prestise yang begitu mendominsi kehidupan masyarakat kita, bukannya pahala yang kita dapatkan bahkan dosa karena mengabaikan pendidikan anak-anak kita. Karena pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia.
Memanusiakan manusia merupakan bagaimana kita ber tingkah laku selayaknya manusia yang telah dianugrahi akal oleh Allah dan inilah menjadi keistimewaan manusia dibanding dengan mahluk lainnya dimuka bumi.
Perintah haji dan perintaah menuntut ilmu merupakan perintah yang wajib, tetapi kewajiban yang Allah perintahkan itu bukan untuk membebani hambanya, tetapi lagi-lagi dengan Maha Rahman dan Rahimnya Allah memberikan dispensasi dengan kalimat “sesuai kesanggupan dan kemampuan”
Mudah-mudahan dengan goresan yang sedikit ini bisa mewarnai symbol-simbol yang ada dalam setiap blog di internet ini,dan mudahan bermanfaat bagi yang berkesempatan membacaanya, kritik dan saran sangat saya harapkan untuk kesempurnaan artikel ini.
(Tgl 26 Desember 2013)

Selasa, 24 Desember 2013

MAKNA SEBUAH KOMUNIKASI

Pada hari minggu , sekitar jam 10.00 saya berangkat ke sekolah hanya untuk tujuan mengumpulkan laporan kegiatan LDK, sesampai di sekolah  ,waka kesiswaan dan salah satu guru memberikan informasi tentang sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam benakku , ternyata waka kesiswaan menceritakan bahwa ada seorang teman guru dengan nada yang agak keras bahwa saya telah mendelegasikan pengurus osis untuk mengambil sesuatu yang saya telah amanahkan kepada teman guru, tetapi sesungguhnya bukan itu maksudnya,hanya saya menyuruh untuk terus berkoordinasi, ternyata maksud dan tujuan itu disalah artikan, dan ironisnya tanpa mengklarifikasi  terhadap permasalahan itu.
Ternyata miss komunikasi bisa terjadi dimana saja, tidak melihat apakah di institusi pendidikan maupun di luar institusi pendidikan. Di lingkungan pendidikan yang di dalamnya orang-orang yang berpendidikan tidak jauh bedanya dengan di luar pendidikan, ketika ada permasalaahan, kita selalu reaktif dan respon walaupun itu belum jelas titik permasalahannya.
Proses pendidikan tidak bisa membuat semua orang menjadi dewasa apalagi bijaksana, karena titik klimak dari orang yang berilmu pengetahuan adalah kebijaksanaan. Dan ini sangat kontradiktif sekali dengan realitas kehidupan, sesorang yang telah mendapatkan pendidikan sampai keperguruan tinggi dan mengantongi banyak title bukan berarti dia menyikapi permasalahan dengan bijaksana, bahkan sebaliknya.
Proses pembelajaran yang telah kita dapatkan tidak serta merta membuat kita baik secara fisik and psikis berubah, perubahan yang banyak dirasakan hanyalah perubahan dari segi kognitif tapi sikap dan mental tidak berubah secara instan, dan inilah yang menjadi PR besar dunia pendidikan. Sistem pendidikan kita banyak terkonsentrasi pada aspek kognitif semataa , dan aspek afektif n psikomotorik tidak terlalu mendapat perhatian. Sehingga muncullah manusia-manusia yang hanya punya otak tapi tidak punya watak.
Di samping itu factor ketauladanan merupakan factor yang sangat penting yang memang pada era millennium 21 ini dirasakan sangat kurang, baik dari tingkat pemerintah,pembuat kebijakan,pelaksanaa kebijakaan  dan bahkan ironisnya dari yang berprofesi sebagai pengajar ataupun pendidik.Pendidik sebagai orang yang di gugu dan di tiru sejatinya sikap dan tingkah lakunya terkontrol dan harus ada link and match antara teori dan praktik. Kan apa yang dikerjakan oleh guru pasti akan diikuti oleh siswa.
Sikap dan prilaku seperti itu merupakan akumulasi dari kegagalan sistem pendidikan yang terlalu berorientasi pada kecerdasan intelektual semata padahal masih banyak bentuk-bentuk kecerdasan lainnya. Kalau bentuk bentuk kecerdasan itu di berikan porsi yang sama dalam pembelajaran insyaallah  akan lahir manusia yang  punya otak serta punya watak.
Di dalam kehidupan kita, kita tidak akan pernah terlepas dari interaksi social, karena manusia adalah mahluk social, yang selalu bergantung kepada orang lain, ketergantungan ini membutuhkan sebuah startegi  agar selalu terjalin dan bertahan lama, karena Rasulpun pun telah memperaktikkan dan menyebarkan virus- virus kasih sayang kepada sesamanya dan inilah menjadi daya tarik Rasulullah dalam menyebarkan ajarannya.Beliau tidak pernah reaktif terhadap permasalahan yang belum jelas titik permasalahannya. Kenapa tidak kita sebagai manusia yang selalu dibungkus oleh kesalahan dan kekurangan yang selalu memperturutkan nafsu kita, mengikuti langkah –langkah beliau.
Rasulullah diutus Allah untuk mendobrak kejahiliahan, artinya kalau masih sikap dan prilaku kita dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan sesama mengundang sebuah konflik atau perdebatan yang akan membawa perpecahan, maka kita masih dalam kondisi jahiliyah. Untuk kita keluar dari kondisi tersebut mari kita amalkan obat yang paling mujarab yang tawarkan Allah dan Rasulnya kepada kita yaitu “Al-Qur’an dan As-sunnah. Untuk mengkosumsi obat ini hanyalah melalui pendidikan.
( Minggu, 15 Desember 2013)