Selasa, 31 Desember 2013

TAHUN BARU



Tahun baru, Semangat baru, atau baru semangat !
Tahun baru adalah momentum bagi sebuah fitrah perubahan, sesungguhnya tahun baru tidak mengandung keistimewaan apapun karena perubahan itu sendiri adalah fitrah (sebuah keniscayaan) yang memang semestinya terjadi kepada semesta alam, sama dengan perubahan perkawinan spermatozoa dengan sel telur yang kemudian bertumbuh menjadi zigod lalu menjadi embrio hingga menjadi kehidupan kita seperti sekarang ini. Perpindahan bumi mengitari matahari yang memproduksi pagi, siang sore dan malam adalah perubahan yang juga mesti harus terjadi. Pernahkah kita berfikir untuk memperingati perubahan pagi menuju siang dan dari siang menuju malam, kalau pernah kita peringati, bentuk peringatan apa yang kita lakukan untuk perubahan itu, lalu kemudian kita begitu sangat eporianya memperingati kalaziman perubahan tahun.
Apakah kandungan dari perubahan tahun yang kita lakukan ? dengan meniup terompet, menyalakan kembang api hingga membunyikan petasan sampai memekik telinga terutama pada tepat pukul 00.00 yang mungkin pada saat yang sama ada yang memilih memperingatinya dengan cara yang tidak popular misalnya melakukan muhasabah, melakukan hubungan-hubungan dengan sang pemilik perubahan itu sendiri yaitu Tuhan Yang Maha Abadi, atau bermunajad di keheningan malam sembari mengingat prosesi kehidupan di tahun sebelumnya.
Tentu cara memperingati perubahan tahun membawa latar masing-masing yang bermuara kepada optimisme kehidupan di masa depan.Dan adalah fitrah kemanusiaan kita yang selalu berupaya mencari memontum yang tepat untuk melakukan sesuatu termasuk momentum perubahan, tentu yang kita maksud adalah perubahan kearah yang lebih baik.Sesungguhnya umat Islam misalnya mempunyai banyak momentum setiap saat untuk melakukan kebaikan-kebaikan misalnya antara Isya dan Subuh terdapat momentum muhasabah dan penemuan sejatinya penghambaan bernama Qiyamul lail atau tahajjud, beberapa saat kemudian antara subuh dan zohor terdapat momentum bagi terbukanya pintu kesejahteraan bagi perbaikan kehidupan bernama sholat Dhuha.Diantara beberapa sholat terdapat suplementasi bagi upaya kesyukuran baik Qobliyah maupun Bakdiyah, Umat Islam mempunyai upacara mingguan, yaitu momentum membangun kebersamaan (Jamaah) dengan menegakkan sholat jumat kemudian adanya momentum pengukuhan bagi terciptanya insan yang mempunyai upaya control produktif bernama Siyamu Romadhon. Yang diakhiri dengan momentum kembali kepada hakekat kesucian dalam bentuk idul fitri yang ditutup dengan adanya kerelaan hati untuk berkorban demi terciptanya sinergi kehidupan antara sesama penghuni kehidupan (Hablum minannas) dan antara penghuni kehidupan  dengan pemilik kehidupan (Hablum minallah).
Maka pertanyaannya adalah pernahkah kita berpikir untuk memperingati kejadian kejadian perubahan tersebut se-eporia, se-gembira,se-gegap gempita kita memperingati tahun baru ?, sejatinya perubahan waktu harus mampu melahirkan alur kehidupan yang lebih baik dengan cara pandang yang lebih positif dan biasanya yang efektif adalah membangun semangat kejujuran untuk menjadikan masa lalu menjadi energi bagi masa depan yang lebih baik. Ataukah harus menunggu perubahan tahun baru demi tahun baru kita baru semangat ?.........
(Malam Tahun baru ,pukul 02:00)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar