Tahun
baru, Semangat baru, atau baru semangat !
Tahun
baru adalah momentum bagi sebuah fitrah perubahan, sesungguhnya tahun baru
tidak mengandung keistimewaan apapun karena perubahan itu sendiri adalah fitrah
(sebuah keniscayaan) yang memang semestinya terjadi kepada semesta alam, sama
dengan perubahan perkawinan spermatozoa dengan sel telur yang kemudian
bertumbuh menjadi zigod lalu menjadi embrio hingga menjadi kehidupan kita
seperti sekarang ini. Perpindahan bumi mengitari matahari yang memproduksi
pagi, siang sore dan malam adalah perubahan yang juga mesti harus terjadi.
Pernahkah kita berfikir untuk memperingati perubahan pagi menuju siang dan dari
siang menuju malam, kalau pernah kita peringati, bentuk peringatan apa yang
kita lakukan untuk perubahan itu, lalu kemudian kita begitu sangat eporianya
memperingati kalaziman perubahan tahun.
Apakah kandungan dari perubahan
tahun yang kita lakukan ? dengan meniup terompet, menyalakan kembang api hingga
membunyikan petasan sampai memekik telinga terutama pada tepat pukul 00.00 yang
mungkin pada saat yang sama ada yang memilih memperingatinya dengan cara yang
tidak popular misalnya melakukan muhasabah, melakukan hubungan-hubungan dengan
sang pemilik perubahan itu sendiri yaitu Tuhan Yang Maha Abadi, atau bermunajad
di keheningan malam sembari mengingat prosesi kehidupan di tahun sebelumnya.
Tentu cara memperingati perubahan
tahun membawa latar masing-masing yang bermuara kepada optimisme kehidupan di
masa depan.Dan adalah fitrah kemanusiaan kita yang selalu berupaya mencari
memontum yang tepat untuk melakukan sesuatu termasuk momentum perubahan, tentu
yang kita maksud adalah perubahan kearah yang lebih baik.Sesungguhnya umat
Islam misalnya mempunyai banyak momentum setiap saat untuk melakukan
kebaikan-kebaikan misalnya antara Isya dan Subuh terdapat momentum muhasabah
dan penemuan sejatinya penghambaan bernama Qiyamul lail atau tahajjud, beberapa
saat kemudian antara subuh dan zohor terdapat momentum bagi terbukanya pintu
kesejahteraan bagi perbaikan kehidupan bernama sholat Dhuha.Diantara beberapa
sholat terdapat suplementasi bagi upaya kesyukuran baik Qobliyah maupun
Bakdiyah, Umat Islam mempunyai upacara mingguan, yaitu momentum membangun
kebersamaan (Jamaah) dengan menegakkan sholat jumat kemudian adanya momentum
pengukuhan bagi terciptanya insan yang mempunyai upaya control produktif
bernama Siyamu Romadhon. Yang diakhiri dengan momentum kembali kepada hakekat
kesucian dalam bentuk idul fitri yang ditutup dengan adanya kerelaan hati untuk
berkorban demi terciptanya sinergi kehidupan antara sesama penghuni kehidupan
(Hablum minannas) dan antara penghuni kehidupan
dengan pemilik kehidupan (Hablum minallah).
Maka pertanyaannya adalah pernahkah
kita berpikir untuk memperingati kejadian kejadian perubahan tersebut
se-eporia, se-gembira,se-gegap gempita kita memperingati tahun baru ?,
sejatinya perubahan waktu harus mampu melahirkan alur kehidupan yang lebih baik
dengan cara pandang yang lebih positif dan biasanya yang efektif adalah
membangun semangat kejujuran untuk menjadikan masa lalu menjadi energi bagi
masa depan yang lebih baik. Ataukah harus menunggu perubahan tahun baru demi
tahun baru kita baru semangat ?.........
(Malam
Tahun baru ,pukul 02:00)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar